Kamis, 03 Februari 2011

Pentingnya Wawasan

Naqoura, Kamis (3/2)
Di edit dari berbagai sumber

Cara untuk meningkatkan dan memperluas wawasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan carayang paling efektif adalah melelui pendidikan.

Menurut Makagiansar (mimbar pendidikan, 1989) agar kita dapat meningkatkan wawasan global, maka pendidikan memegang peranan penting. Memelui pendidikan maka anda harus mampu mengembangkan 4 hal seperti berikut.
  1. Kemampuan mengantisipasi (anticipate)
  2. Mengerti dan mengatasi situasi (cope)
  3. Mengakomodasi (accomodate)
  4. Mereoriantasi (reorient)
Nilai budaya yang merupakan identitas budaya harus kita pertahankan. Tetapi ada nilai yang perlu diubah atau disesuaikan dengan perkembangan. Pendidikan harus membuka wawasan anak didik dan mengembangkan nilai-nilai yang perlu dipertahankan. Sesuai dengan derasnya arus globalisasi, maka peran keluarga juag sangat besar.

Para Pendemo Diperingatkan Akan Dibantai Secara Massal

Naqoura (3/2)   Para pendemo tidak akan meninggalkan bundaran Tahrir sebelum Mubarak menyatakan mundur. Kondisi ini memancing pasukan keamanan bersikap brutal menghadapi para pendemo.
 
Berbagai cara telah ditempuh pasukan keamanan Mesir untuk membubarkan para pendemo. Seperti ditayangkan Televisi Aljazeera secara langsung, para polisi berpakaian preman dikerahkan. Selain itu, suara gemuruh genderang terdengar di bundaran untuk mengacaukan konsentrasi para pendemo. 

Tampak juga polisi berpakaian preman menunggagi kuda dan unta untuk masuk ke bundaran Tahrir. Namun langkah itu kemudian diketahui para pendemo. Para polisi berpakaian preman pun harus menghadapi perlawanan sengit dari para pendemo.

Yusuf Qaradawi Serukan Masyarakat Mesir Bergabung dengan Pendemo

Naqoura (3/2)     Bentrokan sengit antara pendemo dan pasukan keamanan Mesir menyebabkan ulama terkemuka Yusuf Qaradawi merasa prihatin. Keprihatinan itu disampaikan Qaradawi dalam wawancaranya dengan Televisi Aljazeera yang disiarkan secara langsung, Rabu Malam (2/2).
 
Dalam pernyataannya, Qaradawi mengkritik keras rezim Hosni Mubarak yang dinilainya telah buta dan dungu. Qaradawi di awal pernyataannya menegaskan bahwa para syuhada yang gugur dalam rangka menggulingkan rezim Mubarak tidak akan sia-sia.

Qaradawai juga menyerukan masyarakat Mesir supaya bergabung dengan para pendemo di bundaran Tahrir, Kairo. Masyarakat juga diminta supaya membantu dan menyembuhkan para pendemo yang terluka akibat bentrokann sengit yang terjadi pada hari Rabu (2/2). Di penghujung pernyataannya, Qaradawi mendoakan masyarakat Mesir yang telah bangkit melawan sosok Firaun modern. 

Hari Ahad lalu, Persatuan Ulama Muslimin Sedunia menyatakan bahwa para pendemo yang gugur dalam aksi demo karena tembakan peluru pasukan keamanan dihukumi sebagai syuhada di sisi Allah Swt. Pernyataan resmi organisasi ini yang juga berpusat di Mesir secara tidak langsung menyatakan fatwa jihad anti-rezim Mubarak.

Sementara itu, Syeikh al-Azhar, Doktor Ahmed at-Tayyeb, malah menganjurkan para penentang Presiden Hosni Mubarak supaya berunding dengan rezim berkuasa. Pernyataan Ahmed at-Tayyeb tak urung semakin mengobarkan kemarahan rakyat. (IRIB/Ajazeera/AR/Info Ops)

Hadapi Pendemo di Kairo, Ribuan Pasukan Israel dan Baduwi Dikerahkan

Naqoura (3/2)   Pengamat Timur Tengah, Hadi Majidi, menyatakan bahwa 1500 pasukan komando Zionis Israel dan 5 ribu baduwi bayaran dikerahkan untuk membubarkan para pendemo anti-rezim Hosni Mubarak.
 
Menurut keterangan Majidi, sebagian pasukan komando didikan Zionis Israel itu berbahasa Arab. Selain itu, pasukan komando itu didampingi sekelompok baduwi yang jumlah mereka mencapai 5 ribu orang. Para baduwi dibayar dengan biaya yang cukup tinggi untuk menghadapi para pendemo. Mereka dilengkapi dengan senjata tajam seperti pisau, parang dan pentungan.


selengkapnya

Preman Pro-Mubarak Sudutkan Demonstran di Bundaran Tahrir

Naqoura (3/2)   Revolusi Mesir menginjak hari ke-10 dan tercatat sedikitnya enam pengunjuk rasa anti-rezim Mubarak tewas dan 14 lainnya cedera. 
 
Demonstrasi terus berlanjut, namun sebelum Rabu malam (2/2) tidak terjadi bentrokan dalam aksi demonstrasi warga. Khususnya setelah militer Mesir menilai demonstrasi damai warga sebagai hal yang wajar dan tidak melanggar undang-undang. Tidak hanya itu, pihak militer juga menyatakan tidak akan menggunakan kekerasan. 

Namun sejak Rabu malam, aktivitas para demonstran di Bundaran Tahrir, pusat kota Kairo, mendadak diserang oleh para badui dan preman bayaran rezim Hosni Mubarak. Mereka memuntahkan tembakan ke arah para demonstran. Demikian dilaporkan DPA.Menurut keterangan saksi mata, korban terakhir adalah seorang penentang pemerintah yang tewas akibat terkena tembakan.

Bentrokan Hari Rabu, Ratusan Tewas dan Ribuan Terluka

Naqoura (3/2)   Jutaan pendemo terlibat bentrok dengan polisi yang berpakaian preman di kota Kairo pada hari kesembilan aksi protes anti-rezim Mubarak, Rabu (3/2). Sekelompok orang yang kemudian diketahui beridentitaskan polisi menyerang kumpulan pendemo di bundaran Tahrir, Kairo. Bardasarkan laporan tersebut, satuan preman itu berjumlah ribuan.
 
Polisi yang berpakaian preman juga menembakkan peluru ke arah para pendemo. Sebagaimana dilaporkan Press TV, miminal 15 warga tertembak oleh peluruh pasukan keamanan Mesir. Salah satu di antara mereka dipastikan meninggal dunia akibat tembakan tersebut.

3 Februari Dalam Lintasan Sejarah

Imam Khomeini Akan Bentuk Pemerintahan Sementara
 
32 tahun yang lalu, tanggal 3 Februari tahun 1979, dua hari setelah kembalinya Imam Khomeini ke Iran, beliau mengadakan jumpa pers dengan para wartawan. Dalam kesempatan itu, Imam Khomeini menjelaskan bahwa pemerintahan revolusi Islam akan segera dibentuk dengan tugas untuk mempersiapkan pelaksanaan referendum. Referendum ini direncanakan akan diadakan setelah disusunnya undang-undang dasar Republik Islam. Selain itu, Imam Khomeini juga menyatakan akan mengeluarkan fatwa jihad kepada rakyat Iran, bila tindakan represif pemerintahan Perdana Menteri Shapour Bakhtiar masih diteruskan. Imam Khomeini juga menyerukan kepada angkatan bersenjata Iran agar bergabung dengan rakyat untuk mendukung revolusi Islam.