Selasa, 04 Januari 2011

Kiblat Pertama Islam Hancur dengan Gempa Buatan

Rezim Zionis Israel telah merancang skenario untuk menghancurkan Masjidul Aqsha dengan gempa buatan. Hal itu diungkap seorang peneliti Saleh al-Raqb seperti dilaporkan Mufakkirah al-Islam. 
 
Dalam sejumlah acara televisi dan artikelnya, Saleh al-Raqb mengatakan, Israel sedang merancang untuk membuat gempa di kawasan Neqeb barat atau di kawasan laut atau mungkin juga dengan memecahkan dinding sonik di dekat lokasi Masjidul Aqsha. Dengan adanya goncangan mereka berharap kiblat pertama umat Islam itu bisa hancur.

Ditambahkannya, untuk mendukung program ini, Israel meningkatkan penggalian di bawah lokasi masjid yang disucikan itu. Kondisi tersebut bisa membuat Masjidul Aqsha runtuh dengan goncangan yang kecil sekalipun. (IRIB/NUR-Info Ops)

Mari Belajar Menjadi Pemimpin Yang Baik (Inspirasi Tengah Malam)

(Edisi 1/Naqoura, Senin 3/1/2011. 23.31 waktu Lebanon)

Menjadi pemimpin yang baik tidaklah semudah mendapatkan jabatan ‘pemimpin’, namun bagaimana kita akan memerpalukan diri sendiri setelah menjadi seorang pemimpin manakala jabatan ‘pemimpin’ itu telah kita dapatkan, apapun namanya organisasi itu yang harus kita pimpin. Untuk menjadi pemimpin yang baik dan disegani tentu saja membutuhkan waktu dan proses interaksi yang panjang dengan anak buah, anggota, jama’ah dan lain-lain sesuai nama organisasinya.

Banyak hal atau kiat yang mungkin bisa dilakukan walaupun saya yakin akan sulit untuk menjalaninya (minimal ada upaya), antara lain :
 
1. Menjadi suri tauladan. Hal ini bukan berarti kita harus sempurna dahulu akhlaqnya, akan tapi paling tidak harus konsisten antara apa yang kita ucapkan dengan tindakan kita di hadapan anak buah. Misalnya, kita mengatakan bahwa rapat akan dimulai pukul 8.00, maka kita harus konsisten memulai rapat pada jam 8.00 tersebut.

Kilas Balik, Palestina dan Israel di Tahun 2010 (Dikutip Dari Berbagai Sumber)

Lebanon (3/1).     Tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2010 yang merupakan tahun ke-62 pendudukan kaum Zionis atas negeri Palestina berjalan dengan diwarnai derita rakyat Palestina dan kejahatan orang-orang Zionis. Jalur Gaza, wilayah kecil yang sangat padat dengan populasi warganya sekitar satu setengah juta jiwa masih dipasung dalam blokade. Tak ada pintu yang terbuka untuk menghubungkan warga di Gaza dengan dunia luar. Pasokan makanan, obat-obatan dan keperluan hayati warga tak diizinkan masuk. 

Presiden Lebanon Siap Balas Israel

 Michel Suleiman

Lebanon (3/1).       Presiden Lebanon Michel Sleiman kembali menegaskan tak akan tinggal diam menyaksikan pelanggaran yang dilakukan Rezim Zionis Israel terhadap kedaulatan Lebanon. "Lebanon harus mempersiapkan langkah yang jitu untuk menjawab pelanggaran itu," imbuhnya. Pernyataan itu disampaikan Sleiman dengan menunjuk kepada kesiapan strategi pertahanan Lebanon untuk menangkap gangguan Israel. Sang Presiden menekankan kembali soal kemampuan Lebanon dan strategi pertahanan nasional yang juga meliputi bidang politik, diplomasi dan militer dalam menangkap kemungkinan serangan udara, darat dan laut serta upaya untuk membebaskan wilayah yang masih diduduki rezim Zionis Israel. 
 

Israel Tidak Bisa Perang Panjang

Lebanon (3/1).        Seperti yang dilangsir harian online IRIB pada Jum'at (31/12/2010) menjelaskan bahwa seorang peneliti menilai rezim Zionis tidak dapat bertahan dalam perang panjang dengan lawannya, karena Israel memiliki keterbatasan geografis. 
 
Mengacu pada perang 2006 di Lebanon, Ahmed mengatakan, "Pasukan Israel dikalahkan sangat cepat setelah berperang hanya dalam beberapa minggu, karena mereka tidak memiliki kedalaman geografis."
Direktur IGA (Institiut Kajian Teluk Persia) Ali al-Ahmed mengatakan, "Setiap kali rezim Zionis berperang dengan kekuatan tangguh di wilayah ini akan mendorong Israel untuk menggunakan sesuatu yang melebihi senjata konvensional."

Lebanon di Tahun 2010

 Sayyid Hasan Nasrullah

Naqoura (3/1).         Seperti yang dilangsir harian online IRIB pada edisi 30 Desember 2010 lalu bahwa selama kurun waktu tahun 2010, pesawat tempur Zionis Israel terus menerjang zona udara lebanon dan melanggar resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB nomor 1701 mengenai gencatan senjata. Resolusi itu diputuskan pada tahun 2006 untuk menghentikan perang 33 hari. Rezim Zionis Israel harus menghormati resolusi DK PBB dan kedaulatan Lebanon. Akan tetapi rezim ini tetap melakukan pelanggaran dengan menerbangkan pesawat tempur di zona udara Lebanon. Terkait hal ini, Beirut berulangkali mengirim surat protes kepada PBB terkait pelanggaran Tel Aviv itu.