Minggu, 10 April 2011

Mesir kembali Memanas, Korban Berjatuhan

Lebanon, (10/04)    Korban tewas akibat tindakan keras aparat keamanan terhadap pengunjuk rasa di Bundaran Tahrir, Kairo, Mesir, meningkat menjadi enam orang, setelah beberapa korban luka parah meninggal di rumah sakit. Tentara dan polisi menggunakan senjata dan pentungan untuk membubarkan beberapa ribu pengunjuk rasa, yang telah berkemah di tempat tersebut, ujar koresponden Press TV pada hari Sabtu (9/4).

Para saksi mata mengatakan suara tembakan terdengar di alun-alun Bundaran Tahrir. Para demonstran melawan tekanan apara yang berusaha membubarkan aksi protes. Mereka bersumpah untuk terus melanjutkan aksinya. Laporan sebelumnya mengatakan, dua orang tewas dan 18 lainnya luka-luka. Namun, sumber-sumber medis kini menyatakan bahwa angka kematian diprediksikan akan meningkat, karena beberapa korban luka berada dalam kondisi kritis.

Ribuan orang bergabung dengan pengunjuk rasa di bundaran bersejarah pada hari Sabtu. Mereka mendesak para penguasa militer untuk memenuhi seluruh tuntutan rakyat, termasuk mengadili Mubarak dan segera melimpahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil.
Perkembangan ini terjadi dua bulan setelah revolusi rakyat Mesir berhasil menggulingkan mantan presiden Hosni Mubarak. (IRIB/Info Ops)

Militer AS Tidak Hengkang, Tentara Al-Mahdi Akan Diaktifkan

Lebanon, (10/04)    Puluhan ribu warga Irak turun ke jalan-jalan Baghdad memprotes kehadiran pasukan AS.
Seraya meneriakkan slogan-slogan anti-AS dan menyeru persatuan Syiah dan Sunni di Irak, para demonstran hari ini (Sabtu, 9/4) mendesak "penarikan segera pasukan AS". Demikian dilaporkan koresponden Press TV. 

Protes itu muncul setelah Menteri Pertahanan AS Robert Gates Kamis mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mempertahankan pasukannya di Irak setelah tanggal penarikan mundur yang disepakati yaitu hingga akhir 2011, jika pemerintah Irak meminta bantuan. Ulama Syiah Irak, Muqtada al-Sadr, hari ini menyatakan bahwa para pendukungnya akan terus melanjutkan resistensi terhadap militer Amerika jika tidak meninggalkan Irak hingga akhir tahun. 

Menurutnya, "Jika Amerika tidak meninggalkan Irak sesuai jadwal, kami akan resistensi dan memulai kembali kegiatan Tentara al-Mahdi". Jurubicara pemerintah Irak Ali al-Dabbagh mengatakan Jumat (8/9) bahwa Baghdad tidak ingin Amerika Serikat untuk mempertahankan pasukannya lebih di Irak lebih dari tahun 2011.

Dikatakannya, "Perdana Menteri Nouri Al-Maliki mengatakan kepada Menteri Pertahanan (AS) Robert Gates bahwa pemerintah Irak menentang segala bentuk kehadiran pasukan AS atau dari negara lainnya." Dalam perjanjian keamanan Baghdad-Washington (SOFA) yang ditandatanani pada 2008, telah ditetapkan bahwa pasukan militer AS ak sebelum tahun 2012. 

Amerika Serikat telah menyelesaikan operasi militernya di Irak selama musim panas tahun 2009. Sebagian besar tentara AS dijadwalkan akan meninggalkan Irak pada musim panas 2011. Berdasarkan laporan Associated Press, saat ini sekitar 47.000 tentara AS bertugas di Irak. Jumlah sebelumnya mencapai lebih dari 170.000 personil.Setidaknya 4.443 warga Irak tewas sejak invasi pimpinan AS pada tahun 2003. Data itu dirilis oleh www.icasualties.org independen.(IRIB/Info Ops)

NATO Salah Tembak Tapi Menolak Meminta Maaf

Lebanon, (10/04)     Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyatakan tidak akan meminta maaf karena telah salah menembak tank-tank milik pasukan revolusioner di Libya timur. IRNA melaporkan, Russ Harding, Wakil Komandan NATO di Libya, Jumat (8/4) dalam konferensi pernya mengatakan, NATO sebelum operasi yang digelar hari Kamis (7/4), tidak mengetahui bahwa pasukan revolsioner juga menggunakan tank dalam pertempurannya melawan militer pro-diktator Muammar Gaddafi. 

Dikatakannya, "Tugas kami adalah menjaga nyawa warga sipil dan pasukan pro-Gaddafi biasanya menggunakan tank untuk menyerang warga." Di lain pihak, pasukan revolusioner Libya geram karena menjadi sasaran serangan NATO. Panglima pasukan revolusioner Libya, Abdul Fatah Younis sebelumnya telah menyatakan bahwa pihaknya telah mengumumkan pengerahan tank-tank milik pasukan revolusioner di garis depan medan tempur.Namun, Harding mengklaim bahwa kondisi antara kota Ajdabiya dan Brega, yang menjadi sasaran serangan udara NATO, sangat tidak jelas ditambah dengan kendaraan dan tank-tank yang bergerak ke segala arah. 

Ia mengklaim bahwa informasi yang diterima NATO menunjukkan bahwa tank-tank militer pro-Gaddafi menembaki warga sipil di kota Misratah dan pada hari Kamis (7/4) tank-tank tersebut bergerak di jalan-jalan.Pejabat tinggi NATO itu mengatakan, "Tampaknya serangan NATO Kamis itu telah merenggut nyawa sejumlah pasukan revolusioner yang berada dalam tank-tank. Namun saya tidak akan meminta maaf atas hal ini."(IRIB/Info Ops)

Sabtu, 09 April 2011

Jerman Siap Kirim Pasukan ke Libya


Lebanon, (08/04)    Pemerintah Jerman siap mengirim pasukan militernya ke Libya dalam menjalankan operasi kemanusiaan, dengan syarat parlemen negara ini menyetujuinya. IRNA (7/4) melaporkan, Berlin akan menyetujui program tersebut jika PBB meminta bantuan kepada Jerman untuk mengirim pasukan dalam rangka menjaga penyaluran bantuan kemanusiaan ke Libya.

Sebelumnya, kesepakatan tersebut juga telah dibahas oleh Uni Eropa pada 21 Maret lalu. Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle mengungkapkan bahwa negaranya siap untuk berpartisipasi dalam operasi kemanusiaan di Libya jika pihak parlemen setuju. Sejumlah sumber Jerman menyatakan bahwa diperkirakan pengerahan pasukan militer ke Libya itu lebih mengacu pada upaya proteksi bantuan medis dan relokasi para pengungsi dari kawasan perang.
Dalam hal ini Westerwelle mengatakan, "Masalah terpentingnya adalah bahwa kami membantu manusia-manusia yang tengah menderita."(IRIB/Info Ops)